Tuesday, February 28, 2017

Konsep Dasar IPS : Penderitaan di Bawah Penjajahan

BAB 1
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sebelum berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, negara kita adalah negara/daerah jajahan belanda dengan nama Hindia Belanda. Selama kurang lebih 350 tahun sejak masuknya VOC ke tanah Indonesia tahun 1602 sampai masuknya jepang pada tahun 1942. Sebagai bangsa yang terjajah, bangsa Indonesia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hak setia bangsa, telah dirampas oleh para penjajah. Kebebaan rakyat Indonesia yang di rampas penjajah tidak hanya kebebasan ekonomo, tetapi juga kebebasan politik dan sosial budaya. Dengan kata lain penjajah bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, serta merupakan pelanggaran HAM.
B.      Rumusan Masalah
1.       Bangsa apa saja yang menjajah bangsa Indonesia ?
2.       Penderitaan apa saja yang dirasakan oleh rakyat Indonesia ?

C.      Tujuan
1.       Menggambarkan bagaimana penderitaan bangsa Indonesia di bawah penjajahan

D.      Manfaat
1.       Mengidentifikasi penderitaan apa saja yang dirasakan oleh rakyat Indonesia di bawah penjajahan




BAB 2
PEMBAHASAN
A.  Penderitaan dibawah penjajahan
Bangsa Indonesia dijajah dari awal masuknya bangsa Eropa sampai datangnya bangsa Jepang. Indonesia mengalami penderitaan yang dalam, dari satu dengan yang lain penjajah datang tidak satupun yang melakukan rakyat Indonesia dengan baik, tapi mereka melakukan rakyat Indonesia dengan kejam dan tidak mempunyai rasa prikemanusiaan.
Eksploitasi (pengambilan sumber daya) kekayaan tanah air hanya di gunakan untuk kepentingan bangsa penjajah, sedangkan rakyat Indonesia mengalami penderitaan dan siksa dari bangsa penjajah.
Penderitaan rakyat Indonesia dimulai pada saat Portugis datang, mereka memonopoli rempah – rempah yang di dagangkan oleh bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia tidak lagi memiliki kebebasan dalam berdagang.
Setelah sekian lama Portugis menjajah akhirnya Belanda menggantikan penjajahan di Indonesia, tetapi bukan tambah membaik kondisi Indonesia melainkan semakin memburuk.
Setelah sekian lama Belanda menjajah maka mereka membentuk VOC untuk memperkuat kedudukan mereka di Indonesia. VOC menerapkan beberapa kebijakan, yaitu :
1.         Sistem monopoli perdagangan
2.         Melakukan kerja rodi (kerja paksa)
3.         Melakukan pemungutan pajak secara liar
4.         Wajib menanamkan kopi untuk VOC
5.         Tanam paksa
Pada berdirinya VOC, banyak rakyat Indonesia dipaksa kerja rodi sehingga banyak yang mati dan kelaparan. Imperialisme dibidang perdagangan yang dilakukan VOC membuat rakyat Indonesia miskin, menderita, dan mengalami kebodohan.
Setelah Belanda, datanglah Inggris yang menjajah Indonesia kembali, walaupun penderitaan yang di alami Indonesia tidak separah sewaktu Belanda yang menjajah, namum Letnan Gubernur Raffles membuat kebijakan baru dan tidak lagi menggunakan VOC karena menurutnya sewa tanah lebih menguntungkan.
Pada saat VOC bangkrut tahun 1799 penderitaan rakyat Indonesia semakin bertambah dan adanya sistem tanam paksa (culturstelsel) ini merupakan gagasan dari Gubernur jendral Johannes Van Den Bosch yang di angkat oleh Belanda pada tahun 1830. Van Den Bosch mendapat tugas untuk membantu keuangan pemerintahan Belanda yang pada saat itu mengalami kesulitan.
Ketentuan pokok dari sistem tanam paksa antara lain :
1.       Persetujuan dengan penduduk agar mereka menyediakan sebagian dari tanahnya untuk penanaman tanaman dagang yang dapat dijual di pasaran Eropa;
2.       Bagian dari tanah pertanian yang disedikan penduduk untuk tujuan ini tidak boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian yang dimiliki penduduk desa;
3.       Pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman dagang tidak boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi;
4.       Tanah yang disediakan untuk menanam tanaman dagangan dibebaskan dari pembayaran pajak;
5.       Tanaman dagang yang dihasilkan pada tanah yang disediakan wajib diserahkan kepada pemerintah Belanda;
6.       Panen yang gagal dibebankan kepada pemerintah;
7.       Penduduk desa mengerjakan tanah mereka dibawah pengawasan kepala – kepala mereka, sedangkan para pegawai Eropa hanya membatasi diri pada pengawasan apakah membajak tanah, panen, dan pengangkutan tanaman tanaman tersebut berjalan dengan baik dan lancar.
Dalam praktek dilapangan ketentuan – ketentuan tersebut tidak dilaksanakan dengan sebenarnya, beberapa ketentuan dilanggar dengan sengaja baik oleh para pegawai pemerintah Hindia Belanda sendiri maupun para pemimpin pribumi yang mencari untung untuk kepentingan mereka sendiri.
Beberapa contoh penyimpangan terhadap ketentuan tanam paksa tersebut adalah sebagai berikut :
1.       Seluruh pelaksanaan tanam paksa atas dasar paksaan;
2.       Tanah yang disediakan untuk tanam paksa hanya boleh meliputi seperlima dari tanah penduduk desa, kenyataannya sering lebih dari separuh bahkan lebih dari tanah rakyat;
3.       Petani di paksa untuk bekerja lebih lama dari jam yang di tentukan;
4.       Tanah petani tetap di kenai pajak;
5.       Penaksiran nilai berupa selisih positif (keuntungan hasil tanaman yang diperdagangkan) yang telah di janjikan sebelumnya tidak pernah di dapat oleh petani, karena penaksiran nilai ditentukan secara subjektif oleh para pegawai pemerintah kolonial Belanda sendiri.
Penderitaan rakyat Indonesia semakin bertubi – tubi, karena mereka di haruskan kerja rodi seperti membangun jalan raya, jembatan, terusan, waduk, rumah – rumah dan gudang serta benteng milik Belanda. Penderitaan rakyat Indonesia menjadi bertambah yaitu kerja rodi dan tanam paksa.
Sistem tanam paksa memang menguntungkan karena keuntungan yang sangat besar  bagi pemerintah Belanda. Tanaman tanaman yang di ekspor menambah pemasukan negara Belanda sehingga mereka dapat membayar hutang piutang mereka tetapi di balik keuntungan itu, Indonesia di haruskan kerja sehingga terjadilah tumpah darah dan keringat rakyat Indonesia.
Tanam paksa juga menimbulkan penderitaan yang sangat menyusahkan. Terdapat di berbagai daerah bahwa rakyat Indonesia menjadi kalaparan, salah satunya tragedy di Cirebon pada tahun 1943 yang mengalami bahaya kelaparan, sehingga banyak keluarga yang harus mengungsi, begitu juga peristiwa di demak pada tahun 1948, sebagai akibat dari kegagalan panen dan di Grobongan antara tahun 1849 – 1950. Kematian akibat kelaparan dan wabah penyakit di berbagai daerah di Indonesia menyebabkan jumlah penduduknya turun drastis.
Berita tanam paksa terdengar hingga ke negeri Belanda, hingga buku yang berjudul “Max Havelaar” yang ditulis oleh Douwes Dekker yang isinya menceritakan penderitaan masyarakat Lebak JawaBarat, akhirnya atas desakkan kaum liberalis pada tahun 1970 sistem tanam paksa di hapuskan.
Penderitan rakyat masih terus berjalan meskipun tanam paksa telah dihapuskan dan digantikan dengan menerapkan kebijakan sistem liberalisme dalam ekonomi (modal swasta diberi peluang sebesar – besarnya untuk mengusahakan kegiatan di Indonesai), penerapan sistem ini membuat kemakmuran rakyat Jawa merosot tajam pada akhir abad ke – 19 karena mereka di beri upah yang rendah serta harga sewa tanah untuk perkebunan di bayar dengan harga yang rendah.
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya kemakmuran di Jawa, antara lain:
1.       Jumlah pertumbuhan penduduk yang pesat dan tidak di imbangi dengan luas daerah;
2.       Sistem kerja rodi semakin ketat atau memaksa;
3.       Akibat politik Hindia Belanda membuat pulau Jawa yang menanggung beban keuangan daerah daerah lain;
4.       Sistem perpajakan yang memberatkan golongan yang berendapatan rendah;
5.       Krisis ekonomi sekitar tahun 1885, merupakan alasan pembayaran upah dan sewa tanah menjadi sangat rendah.
Bukan hanya di bidang perekonomian yang mengalami kemerosotan, bidang pendidikan dan politik juga terkena imbas dari penjajahan Belanda. Di bidang pendidikan hanya sedikit bangsa Indonesia yang mengenyam pendidikan yang layak, tetapi memang pada akhir abad ke – 19 Belanda memang telah membuka sekolah untuk anak pribumi, namun masih sebatas anak kalangan bangsawan saja. Jadi, penjajahan selama berabad – abad itu telah menyebabkan bangsa Indonesia berada dalam kebodohan.
Dalam bidang politik, penjajah Belanda senantiasa bertindak keras tanpa kompromi. Belanda selalu melakukan tindakan politik dan militer yang keras terhadap pihak – pihak yang menentangnya, kegiatan kegiatan politik dari pejuang juga dibatasi bahkan banyak pemimpin organisasi politik yang di penjara atau dibuang ke pengasingan.
Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942. Jepang yang semula seakan mau membantu melepaskan penderitaan akibat penjajahan barat dengan memberikan janji – janji muluknya dan membuat rakyat Indonesia menaruh harapan bahwa pederitaan yang mereka alami akan berakhir, ternyata malah menambah kesegsaraan.
Pada masa kependudukan Jepang, para petani dipaksa harus menyerahkan hasil padinya dan hasil pertanian lainnya kepada pihak Jepang. Semua sumber kekayaan rakyat dikuras habis hanya untuk kepentingan perang dan membuat rakyat Indonesia mengalami kemelaratan dan kelaparan hingga penyakit kekurangan gizi semakin merajalela. Pakaian yang mereka gunakan tidak layak karena tidak mampu membeli pakaian, mereka terpaksa memakai pakaian dari karung goni atau baju karet.
Pada zaman penjajahan Jepang terdapat romusha (pekerja), awalnya romusha ini dilakukan secara sukarela untuk membantu Jepang atas dasar sikap simpati rakyat terhadap Jepang. Namun kemudian, karena Jepang memerlukan jumlah tenaga romusha yang banyak, disitulah awalnya romusha berubah menjadi paksaan. Tenaga tenaga tersebut di butuhkan untuk membangun jalan raya, kubu pertahanan, lapangan udara, pekerja kasar di pabrik dan pelabuhan, tenaga pekerja itu juga dikirim ke luar negeri sperti Thailand, Birma, Malaysia dan Vietnam.
Pekerja romusha diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi, mereka dipaksa bekerja dari pagi hingga petang, tanpa istirahat dan tanpa makan serta perawatan yang cukup. Akibatnya, banyak pekerja romusha yang meninggal di tempat mereka bekerja dikarenakan pekerjaaan yang terlalu berat, kesehatan yang  tidak dijamin, dan makanan yang tidak cukup.




BAB 3
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Penjajahan oleh siapapun pada akhirnya hanya mendatangkan penderitaan, kesengsaraan, kemelaratan, dan ketertindasan pada bangsa Indonesia.

B.      Saran

Kita harus bersyukur, karena kita tidak mengalami hal yang sangat pedih seperti apa yang dirasakan oleh para pendahulu kita yang gugur di tangan bangsa penjajah karena kerja paksa yang di terapkannya.

No comments:

Post a Comment