BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebelum
berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945,
negara kita adalah negara/daerah jajahan belanda dengan nama Hindia Belanda.
Selama kurang lebih 350 tahun sejak masuknya VOC ke tanah Indonesia tahun 1602
sampai masuknya jepang pada tahun 1942. Sebagai bangsa yang terjajah, bangsa Indonesia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan
nasibnya sendiri.
Kemerdekaan
yang sebenarnya merupakan hak setia bangsa, telah dirampas oleh para penjajah.
Kebebaan rakyat Indonesia yang di rampas penjajah tidak hanya kebebasan
ekonomo, tetapi juga kebebasan politik dan sosial budaya. Dengan kata lain
penjajah bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, serta merupakan
pelanggaran HAM.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bangsa
apa saja yang menjajah bangsa Indonesia ?
2. Penderitaan
apa saja yang dirasakan oleh rakyat Indonesia ?
C.
Tujuan
1. Menggambarkan
bagaimana penderitaan bangsa Indonesia di bawah penjajahan
D.
Manfaat
1. Mengidentifikasi
penderitaan apa saja yang dirasakan oleh rakyat Indonesia di bawah penjajahan
BAB
2
PEMBAHASAN
A. Penderitaan
dibawah penjajahan
Bangsa
Indonesia dijajah dari awal masuknya bangsa Eropa sampai datangnya bangsa
Jepang. Indonesia mengalami penderitaan yang dalam, dari satu dengan yang lain
penjajah datang tidak satupun yang melakukan rakyat Indonesia dengan baik, tapi
mereka melakukan rakyat Indonesia dengan kejam dan tidak mempunyai rasa
prikemanusiaan.
Eksploitasi
(pengambilan sumber daya) kekayaan tanah air hanya di gunakan untuk kepentingan
bangsa penjajah, sedangkan rakyat Indonesia mengalami penderitaan dan siksa
dari bangsa penjajah.
Penderitaan
rakyat Indonesia dimulai pada saat Portugis datang, mereka memonopoli rempah –
rempah yang di dagangkan oleh bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia tidak lagi
memiliki kebebasan dalam berdagang.
Setelah
sekian lama Portugis menjajah akhirnya Belanda menggantikan penjajahan di
Indonesia, tetapi bukan tambah membaik kondisi Indonesia melainkan semakin
memburuk.
Setelah
sekian lama Belanda menjajah maka mereka membentuk VOC untuk memperkuat
kedudukan mereka di Indonesia. VOC menerapkan beberapa kebijakan, yaitu :
1.
Sistem monopoli perdagangan
2.
Melakukan kerja rodi (kerja paksa)
3.
Melakukan pemungutan pajak secara liar
4.
Wajib menanamkan kopi untuk VOC
5.
Tanam paksa
Pada
berdirinya VOC, banyak rakyat Indonesia dipaksa kerja rodi sehingga banyak yang
mati dan kelaparan. Imperialisme dibidang perdagangan yang dilakukan VOC
membuat rakyat Indonesia miskin, menderita, dan mengalami kebodohan.
Setelah
Belanda, datanglah Inggris yang menjajah Indonesia kembali, walaupun
penderitaan yang di alami Indonesia tidak separah sewaktu Belanda yang
menjajah, namum Letnan Gubernur Raffles membuat kebijakan baru dan tidak lagi
menggunakan VOC karena menurutnya sewa tanah lebih menguntungkan.
Pada saat VOC
bangkrut tahun 1799 penderitaan rakyat Indonesia semakin bertambah dan adanya
sistem tanam paksa (culturstelsel) ini merupakan gagasan dari Gubernur jendral
Johannes Van Den Bosch yang di angkat oleh Belanda pada tahun 1830. Van Den
Bosch mendapat tugas untuk membantu keuangan pemerintahan Belanda yang pada
saat itu mengalami kesulitan.
Ketentuan
pokok dari sistem tanam paksa antara lain :
1.
Persetujuan dengan penduduk agar mereka menyediakan
sebagian dari tanahnya untuk penanaman tanaman dagang yang dapat dijual di
pasaran Eropa;
2.
Bagian dari tanah pertanian yang disedikan
penduduk untuk tujuan ini tidak boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian
yang dimiliki penduduk desa;
3.
Pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman
dagang tidak boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi;
4.
Tanah yang disediakan untuk menanam tanaman
dagangan dibebaskan dari pembayaran pajak;
5.
Tanaman dagang yang dihasilkan pada tanah yang
disediakan wajib diserahkan kepada pemerintah Belanda;
6.
Panen yang gagal dibebankan kepada pemerintah;
7.
Penduduk desa mengerjakan tanah mereka dibawah
pengawasan kepala – kepala mereka, sedangkan para pegawai Eropa hanya membatasi
diri pada pengawasan apakah membajak tanah, panen, dan pengangkutan tanaman
tanaman tersebut berjalan dengan baik dan lancar.
Dalam praktek
dilapangan ketentuan – ketentuan tersebut tidak dilaksanakan dengan sebenarnya,
beberapa ketentuan dilanggar dengan sengaja baik oleh para pegawai pemerintah
Hindia Belanda sendiri maupun para pemimpin pribumi yang mencari untung untuk
kepentingan mereka sendiri.
Beberapa
contoh penyimpangan terhadap ketentuan tanam paksa tersebut adalah sebagai
berikut :
1.
Seluruh pelaksanaan tanam paksa atas dasar paksaan;
2.
Tanah yang disediakan untuk tanam paksa hanya
boleh meliputi seperlima dari tanah penduduk desa, kenyataannya sering lebih
dari separuh bahkan lebih dari tanah rakyat;
3.
Petani di paksa untuk bekerja lebih lama dari
jam yang di tentukan;
4.
Tanah petani tetap di kenai pajak;
5.
Penaksiran nilai berupa selisih positif
(keuntungan hasil tanaman yang diperdagangkan) yang telah di janjikan
sebelumnya tidak pernah di dapat oleh petani, karena penaksiran nilai
ditentukan secara subjektif oleh para pegawai pemerintah kolonial Belanda
sendiri.
Penderitaan
rakyat Indonesia semakin bertubi – tubi, karena mereka di haruskan kerja rodi
seperti membangun jalan raya, jembatan, terusan, waduk, rumah – rumah dan
gudang serta benteng milik Belanda. Penderitaan rakyat Indonesia menjadi
bertambah yaitu kerja rodi dan tanam paksa.
Sistem tanam
paksa memang menguntungkan karena keuntungan yang sangat besar bagi pemerintah Belanda. Tanaman tanaman yang
di ekspor menambah pemasukan negara Belanda sehingga mereka dapat membayar
hutang piutang mereka tetapi di balik keuntungan itu, Indonesia di haruskan
kerja sehingga terjadilah tumpah darah dan keringat rakyat Indonesia.
Tanam paksa
juga menimbulkan penderitaan yang sangat menyusahkan. Terdapat di berbagai
daerah bahwa rakyat Indonesia menjadi kalaparan, salah satunya tragedy di
Cirebon pada tahun 1943 yang mengalami bahaya kelaparan, sehingga banyak
keluarga yang harus mengungsi, begitu juga peristiwa di demak pada tahun 1948,
sebagai akibat dari kegagalan panen dan di Grobongan antara tahun 1849 – 1950.
Kematian akibat kelaparan dan wabah penyakit di berbagai daerah di Indonesia
menyebabkan jumlah penduduknya turun drastis.
Berita tanam
paksa terdengar hingga ke negeri Belanda, hingga buku yang berjudul “Max
Havelaar” yang ditulis oleh Douwes Dekker yang isinya menceritakan penderitaan
masyarakat Lebak JawaBarat, akhirnya atas desakkan kaum liberalis pada tahun 1970
sistem tanam paksa di hapuskan.
Penderitan
rakyat masih terus berjalan meskipun tanam paksa telah dihapuskan dan digantikan
dengan menerapkan kebijakan sistem liberalisme dalam ekonomi (modal swasta
diberi peluang sebesar – besarnya untuk mengusahakan kegiatan di Indonesai),
penerapan sistem ini membuat kemakmuran rakyat Jawa merosot tajam pada akhir
abad ke – 19 karena mereka di beri upah yang rendah serta harga sewa tanah
untuk perkebunan di bayar dengan harga yang rendah.
Beberapa
faktor yang menyebabkan menurunnya kemakmuran di Jawa, antara lain:
1.
Jumlah pertumbuhan penduduk yang pesat dan tidak
di imbangi dengan luas daerah;
2.
Sistem kerja rodi semakin ketat atau memaksa;
3.
Akibat politik Hindia Belanda membuat pulau Jawa
yang menanggung beban keuangan daerah daerah lain;
4.
Sistem perpajakan yang memberatkan golongan yang
berendapatan rendah;
5.
Krisis ekonomi sekitar tahun 1885, merupakan
alasan pembayaran upah dan sewa tanah menjadi sangat rendah.
Bukan hanya
di bidang perekonomian yang mengalami kemerosotan, bidang pendidikan dan
politik juga terkena imbas dari penjajahan Belanda. Di bidang pendidikan hanya
sedikit bangsa Indonesia yang mengenyam pendidikan yang layak, tetapi memang
pada akhir abad ke – 19 Belanda memang telah membuka sekolah untuk anak
pribumi, namun masih sebatas anak kalangan bangsawan saja. Jadi, penjajahan
selama berabad – abad itu telah menyebabkan bangsa Indonesia berada dalam
kebodohan.
Dalam bidang
politik, penjajah Belanda senantiasa bertindak keras tanpa kompromi. Belanda
selalu melakukan tindakan politik dan militer yang keras terhadap pihak – pihak
yang menentangnya, kegiatan kegiatan politik dari pejuang juga dibatasi bahkan
banyak pemimpin organisasi politik yang di penjara atau dibuang ke pengasingan.
Belanda
menyerah kepada Jepang pada tahun 1942. Jepang yang semula seakan mau membantu
melepaskan penderitaan akibat penjajahan barat dengan memberikan janji – janji
muluknya dan membuat rakyat Indonesia menaruh harapan bahwa pederitaan yang
mereka alami akan berakhir, ternyata malah menambah kesegsaraan.
Pada masa
kependudukan Jepang, para petani dipaksa harus menyerahkan hasil padinya dan
hasil pertanian lainnya kepada pihak Jepang. Semua sumber kekayaan rakyat
dikuras habis hanya untuk kepentingan perang dan membuat rakyat Indonesia
mengalami kemelaratan dan kelaparan hingga penyakit kekurangan gizi semakin
merajalela. Pakaian yang mereka gunakan tidak layak karena tidak mampu membeli
pakaian, mereka terpaksa memakai pakaian dari karung goni atau baju karet.
Pada zaman
penjajahan Jepang terdapat romusha (pekerja), awalnya romusha ini dilakukan
secara sukarela untuk membantu Jepang atas dasar sikap simpati rakyat terhadap
Jepang. Namun kemudian, karena Jepang memerlukan jumlah tenaga romusha yang
banyak, disitulah awalnya romusha berubah menjadi paksaan. Tenaga tenaga
tersebut di butuhkan untuk membangun jalan raya, kubu pertahanan, lapangan
udara, pekerja kasar di pabrik dan pelabuhan, tenaga pekerja itu juga dikirim
ke luar negeri sperti Thailand, Birma, Malaysia dan Vietnam.
Pekerja
romusha diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi, mereka dipaksa bekerja dari
pagi hingga petang, tanpa istirahat dan tanpa makan serta perawatan yang cukup.
Akibatnya, banyak pekerja romusha yang meninggal di tempat mereka bekerja
dikarenakan pekerjaaan yang terlalu berat, kesehatan yang tidak dijamin, dan makanan yang tidak cukup.
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penjajahan oleh
siapapun pada akhirnya hanya mendatangkan penderitaan, kesengsaraan,
kemelaratan, dan ketertindasan pada bangsa Indonesia.
B. Saran
Kita harus
bersyukur, karena kita tidak mengalami hal yang sangat pedih seperti apa yang
dirasakan oleh para pendahulu kita yang gugur di tangan bangsa penjajah karena
kerja paksa yang di terapkannya.